RSS

JENIS JENIS CAMERA VIDEO

Definisi Kamera Video
Kamera Video adalah perangkat perekam gambar video yang mampu menyimpan gambar digital dari mode gambar analog. Kamera Video termasuk salah satu produk teknologi digital, sehingga disebut pula salah satu perangkat digitizer yang memiliki kemampuan mengambil input data analog berupa frekuensi sinar dan mengubah ke mode digital elektronis.

Video/Film adalah rangkaian banyak Frame gambar yang diputar dengan cepat. Masing-masing Frame merupakan rekaman dari tahapan-tahapan dari suatu gerakan. Semakin cepat perputarannya semakin halus gerakannya, walaupun sebenarnya terdapat jeda antara frame namun kita sebagai manusia tidak bisa menangkap jeda tersebut.
Standard Broadcast Video
Standard            Region                                                                       Frame per second (FPS)
Secam                Prancis, Timur tengan dan Afrika                                         25 fps
PAL                   Indonesia, China, Australia, Uni Eropa                                 25 fps
NTSC               Amerika,Jepang, Kanada, Mexico, dan Korea                     29,97 fps

Video Analog adalah Gambar dan Audio direkam dalam bentuk sinyal Magnetik pada pita magnetik.

Video Digital adalah juga serupa dengan Video analog, gambar dan sura digital direkam dalam pita magnetic, tetapi menggunakan sinyal digital berupa kombinasi angka 0 dan 1.

Teknik Penyuntingan Video
Teknik Linear, dilakukan dengan memotong-motong bahan video yang diberi istilah klip dan disusun dengan menggunakan video player dan perekam (VCR-Video Cassete Recorder), bisa juga menggunakan dua player bila kita ingin memasukan effect, sehingga bisa diatur sesuai dengan potongan yang ada.

Teknik Non-Linear, serupa dengan linear kita memotong-motong klip dalam editing, tetapi jauh lebih mudahkarena tinggal drag and drop tanpa kerja dari nol, begitu juga untuk memasukan effect, kita tinggal drag and drop dengan effect yang sudah tersedia. Bahkan kita dapat mengatur dengan mudah durasi dari effect yang kita pakai.

Format dalam kamera video dibagi atas 2 bagian :
Analog format yang terdiri dari standar VHS,VHS-C, Super VHS, Super VHS-C, 8mm, Hi-8
Digital format yang terdiri dari MiniDV,Digital8, DVD

Komputer yang dianjurkan untuk editing video terdiri dari :

  • PC sebaiknya menggunakan teknologi Hyper Trading.
  •  Capture Video Card dan Port, Contoh : Pinacle, Canopus, Port Fire Wire IEEE 1394, USB2, digunakan untuk proses transfer dari camcoder ke PC.
  • Kabel Firewire atau USB
  • Harddisk, untuk pengolahan Video Intensif lebih baik menggunakan SCSI Harddisk, sedangkan untuk yang standar gunakan saja HDD serial ATA, Putaran HDD minimal 7200 rpm.
  • Sound Card
  • VGA card
  • CD-ROM dan CD-RW/DVD-RW
Performa Video Kamera (camcoder) dilihat dari :

Inmatrix Affiliate Program

  1. Analisa gambar bergerak = kualitas gambar bergerak yang telah direkam
  2. Titik lemah resolusi = menetukan nilai yang horizontal dan vertikal, dan hanya sedikit menguji warna warni
  3. White balance = untuk daylight dan sinar lampu dengan menggunakan testchart yang telah distandarisasi dan selanjutnya melakukan penilaian true color
  4. Menghitung noise = perbandingan antara signal dan noise power dituliskan dalam decibel (dB), semangkin tinggi nilai dBnya berarti semangkin tinggi noise distance dan semakin baik pula gambar videonya
  5. Cahaya sensitif = Berapa lama waktu yang dibutuhkan camcoder untuk menyesuaikan ulang kecerahan, semakin lama ulang waktu penyesuaian semakin buruk pula setting diafragma otomatisnya
  6. Kompresi kontra kerugian = Perbedaan antara rekaman dengan aslinya
  7. Kualitas gambar dalam uji ketahanan
Wondershare Video Converter Ultimate for Mac

 KAMERA VIDEO KELUARAN TERBARU Panasonic HDC-MDH1

Kamera baru dari Panasonic HDC-MDH1 ini merupakan keluaran terbaru dari Panasonic dengan Features yang lebih baik dibandingkan kamera terbitan sebelumnya MD10000. Kalau masalah output, kamera terbaru jauh lebih baik dibandingkan dengan kamera MD10000 dengan output kualitas HD atau kualitas DV. Beberapa keunggulan kamera ini sudah dilengkapi dengan features lowlight yang sudah bisa bersaing dengan kamera SONY. Dilengkapi dengan SD Memory Card Recording yang akan menghemat waktu Anda dalam proses pemindahan gambar ke komputer.Serta batteray yang tahan hingga 5jam dengan proses shooting normal kualitas rekam FULL HD 1920 x 1080 Sayangnya kamera Panasonic HDC-MDH1 tidak dilengkapi dengan fasilitas miniDV untuk proses perekaman. Dengan adanya features yang tersedia pada kamera baru tersebut Anda bisa memutuskan apakah kamera baru tersebut cocok untuk bisnis home production yang anda jalankan saat ini? Jawabannya : Tergantung !

 

Anda Lebih Hebat Lagi Kalau Mengintip Artikel Berikut:

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 19, 2013 in JENIS-JENIS CAMERA

 

Do’a Do’a

Do’a Keluarga Maslahah


Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami berikanlah ampunan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibr�h�m: 41-42).Penjelasan:
Doa diatas baik sekali dibaca dalam berbagai kesempatan, agar diri kita dan keluarga kita serta turunan kita senantiasa taat dan rajin beribadah kepada Allah Swt., khususnya ibadah shalat yang telah diwajibkan.
Dalam Al-Quran dikisahkan, bahwa doa tersebut dibaca oleh Nabi Ibrahim a.s., ketika ia baru saja memohon agar kota Mekkah dijadikan kota tentram, aman dan anak turunannaya diselematkan dari menyembah berhala. Lebih detail tentang kisah nabi ibrahim bisa dilihat dalam Al-Ouran Surah Ib�h�m ayat 35-42. Posted by Picasa

Do’a Mohon Tempat yang Baik


Artinya: “Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar, dan keluarkanlah pula aku secara keluar yang benar. Dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan (pemimpin) yang menolong.” (Al-Isr�’: 80).Penjelasan:
Doa di atas dibaca bukan hanya dikhususkan ketika kita akan pergi. Tetapi dalam berbagai keadaan yang sering kali berubah sangat dianjurkan untuk dibacanya seperti akan melaksanakan pemilihan umum untuk memilih pemimpin. Doa di atas dibaca agar kita mendapatkan pemimpin yang jujur dan bijaksana. Baik juga doa di atas dibaca ketika kita akan meninggalkan tempat yang kita huni (dunia), memohon agar ditempatkan pada tempat yang layak setelah meninggal. Demikian Al-Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya.  Posted by Picasa

Do’a Mohon diberi Kemudahan


Artinya: “Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini.” (QS. Al-Kahfi: 10).Penjelasan:
Doa diatas baik sekali dibaca oleh para pejuang muda yang menegakkan agama Allah agar mendapatkan keberhasilan dan kesuksesan. Karena doa tersebut adalah doa yang dibaca pemuda Ashh�b al-Kahfi, yakni sekelompok pemuda yang beriman kepada Allah Swt. hingga mendapatkan petunjuk yang sempurna dari sisi-Nya. Doa ini dibaca oleh mereka ketika akan masuk gua sebagai persembunyiannya untuk menyelamatkan agama yang hak, agama yang mereka pegangi dari fitnah-fitnah dan orang-orang zhalim. Dan Allah Swt. mengabulkan doa mereka Kisah Ashh�bu al-Kahfi dapat dibaca dalam Surah Al-Kahfi dari ayat 9-26. Posted by Picasa

Do’a Kelapangan hati


Artinya: “Ya Tuhan, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah segala urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha: 27)Penjelasan:
Doa di atas balk sekali dibaca ketika menghadapi kezhaliman seseorang, kelompok, dan penguasa. Juga dibaca agar mendapatkan kelancaran, kemudahan dalam berdakwah. Doa ini pula yang sering dibaca oleh para mubaligh.
Al-Quran mengisahkan, bahwa doa tersebut dibaca oleh Nabi Musa a.s. ketika mendapat perintah dari Allah Swt. agar menyampaikan risalah kepada Fir’aun. Dan akhirnya Allah Swt. mengabulkan permintaan Nabi Musa a.s., bisa dilihat dalam Al-Quran Surah Al-kahfi dari ayat 24-36. Posted by Picasa

Do’a Mohon Jodoh dan Keturunan yang Baik

Artinya: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidupku seorang diri, dan Engkaulah pewaris yang paling baik.” (QS. Al-Anbiyai’: 89).

Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sungguh Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali ‘Imron: 38).

Penjelasan:
Doa di atas baik sekali dibaca oleh orang-orang yang belum mempunyai keturunan dan pasangan hidup. Juga baik sekali dibaca oleh setiap muslim agar diberi keturunan yang shalih.
Kedua ayat diatas merupakan doanya Nabi Zakariya a.s. agar diberi keturunan sebagai pelenjut perjuangannya menegakkan agama Allah. Kisah Nabi Zakaria bisa dilihat dalam Al-Our’an Surah Al-Anbiya’ ayat, 89-90; Ali-‘Imron, 38-41. Posted by Picasa

Do’a Mohon Terlepas dari Musibah


Artinya: “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung pula kepada-Mu, ya Tuhan kami dari kedatangan mereka kepadaku.” (OS. Al-Mukmin�n: 97-98).Penjelasan:
Doa di atas dibaca dalam berbagai keadaan agar selamat dari tipu daya syathan, baik dalam beramal maupun dalam pergaulan. Dan doa diatas merupakan perintah Allah agar kita memperbanyak membacanya ketika terjadi musibah. (QS. Al-Mukmin�n ayat 93-94). Posted by Picasa

Do’a Mohon Kemuliaan

Artinya: “Ya Tuhan kami, jauhkanlah adzab Jahanam dari kami, Sungguh ‘adzab itu adalah kebinasaan yang kekal.” (QS. Al-Furq�n: 65).

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furq�n: 74).

Penjelasan:
Dalam Al-Quran dikisahkan, bahwa doa tersebut dibaca oleh orang-orang yang senantiasa memuji dan menyucikannya. Mereka senantiasa berpegang teguh pada etika Islam, beramal shalih, memperbanyak dzikir dan doa dalam segala kesempatan. Posted by Picasa

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 15, 2013 in Kumpulan Do'a -Do'a

 

Do’a Mohon Perlindungan


Artinya: “Ya Tuhanku, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui hakikatnya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampunan serta tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. H�d: 47).

Penjelasan:
Doa ini merupakan doanya Nabi Nuh a.s., yaitu ketika kaumnya termasuk anaknya (kan’an) ikut dihancurkan oleh Allah Swt. melalui banjir besar. Nabi Nuh a.s. perotes kepada Allah Swt., “kenapa anaknya (kan’an) ikut dihancurkan padahal dia adalah bagian dari keluargaku, dan Engkau sendiri berjanji akan menyelamatkan keluargaku dan menenggelamkan kaumku.” (QS. H�d ayat 45).
Kemudian Allah memberikan jawaban: “bahwa dia (Kan’an) bukan termasuk keluargamu yang dijanjikan akan diselamatkan, karena dia tidak shalih dan beriman kepada Allah. Padahal yang akan diselamatkan dari banjir besar adalah mereka-mereka yang beriman kepada Allah.(H�d ayat 46).
Setelah diperingatkan Allah, Nabi Nuh a.s. berdoa dengan lafazh doa diatas. Kemudian Allah mengabulkan doanya. (QS. H�d ayat 48). Posted by Picasa

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 15, 2013 in Kumpulan Do'a -Do'a

 

Do’a Mohon Keselamatan


Artinya: “Ya Tuhan, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim, dan selamatkanlah kami dengan curahan rahmat-Mu dari tipu daya orang- orang yang kafir.” (Qs. Yunus: 85-86).

Penjelasan:
Doa ini dibaca oleh kelompok minoritas yang beriman kepada Nabi Musa a.s., setelah mereka menyaksikan kemukjizatannya dihadapan Fir’aun. Ketika itu, kaum Nabi Musa as yang terdiri dari pemuda-pemuda dalam keadaan takut, bahwa Fir’aun dan pemuka-pemukanya akan menyiksa mereka. Maka pada waktu itu pula Nabi Musa as memerintahkan kepada kaumnya agar tidak takut dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah Swt., seraya berdoa dengan lafazh doa diatas. Bisa dilihat dalam Surah Yunus ayat 83-86. Posted by Picasa

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 15, 2013 in Kumpulan Do'a -Do'a

 

Marhaban Ya Ramadhan

Marhaban Ya Ramadhan


“Marhaban Ya Ramadhan”

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Marhaban Ya Ramadhan – Selamat Datang Bulan Ramadhan

Do’a Malaikat Jibril adalah sbb:

“Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad,
apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

– Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
– Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri;
– Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Maka Rasulullahpun mengatakan amiin sebanyak 3 kali.
Dapat kita bayangkan, yang berdo’a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah
dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Jum’at.

Tanpa Disadari

11 bulan
banyak kata sudah diucapkan dan dilontarkan
tak semua menyejukkan,

11 bulan
banyak perilaku yang sudah dibuat dan diciptakan
tak semua menyenangkan,

11 bulan
banyak keluhan, kebencian, kebohongan
menjadi bagian dari diri,

saatnya istirahat dalam “perjalanan dunia”
saatnya membersihkan jiwa yang berjelaga,
saatnya menikmati indahnya kemurahanNya
saatnya memahami makna pensucian diri

Selamat menunaikan Ibadah Puasa
bersama kita leburkan kekhilafan,

Semoga dengan puasa mempertemukan kita
dengan Keagungan Lailatul Qadar
dan kita semua menjadi pilihanNya
untuk dikabulkan do’a – do’a
dan kembali menjadi fitrah

Amin.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 15, 2013 in Kumpulan Do'a -Do'a

 

Materi Seminar Regional DIY-Jateng “Kesetaraan Gender dari Berbagai Perspektif: Perempuan antara Fitrah & Tuntutan”

Wanita Itu …    Wanita itu …

Wanita adalah mahluk yang diciptakan Allah `Azza Wa Jalla  dengan berbagai kekhasan beserta dengan kodrat yang menyertainya. Wanita diciptakan dengan berbagai fitrah yang menjadikannya mulia dengan fitrah tersebut. Dan tidak akan ditemukan dalam hukum Islam satu nash-pun yang menunjukkan bahwa wanita berkedudukan rendah hanya karena dia diciptakan sebagai seorang wanita.

Namun yang sangat disayangkan adalah ketika wanita kurang menyadari hal ini. Ketika tatanan nilai mulai mengalami pergeseran. Ditambah lagi dengan berkembangnya arus pemikiran sekuler serta merambahnya globalisasi di setiap sendi kehidupan telah merubah perpepsi mereka akan sosok wanita yang ideal dimata mereka. Mereka menganggap bahwa wanita baru dianggap memiliki “arti” ketika mereka berhasil memperoleh posisi yang “sama” dengan pria.

Suatu hal yang awalnya adalah sebuah kelaziman telah dipandang sebagai sebuah keterbelakangan dan kemunduran. Suatu hal yang awalnya diterima dengan keyakinan penuh terhadap ajaran agama, kini menjadi sesuatu yang diperdebatkan tiada hentinya.

 Ada Apa Dengan Wanita …

Ketahuilah wahai saudariku Muslimah !
Wanita dalam Islam menempati posisi yang sangat penting dan strategis dalam sebuah keluarga. Wanita –terutama seorang ibu- adalah madrasah pertama yang akan membentuk akhlak dan pribadi generasi penerus ummat ini. Sampai-sampai dikatakan bahwa ibu adalah tiang berdirinya negara. Sejarah telah membuktikan bahwa maju mundurnya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh andil besar kaum ibu.

Benar, ketika para wanita di suatu bangsa telah mengalami kehancuran secara moral, maka kehancuran bangsa tersebut tinggal menunggu waktunya saja. Marilah kita melihat sejenak keadaan yang terjadi di negara-negara barat yang selama ini begitu bersemangat dalam menggagas serta menggerakan feminisme dan kesetaraan gender. Generasi yang dilahirkannya disana semakin brutal dan bobrok. Degradasi moral yang terjadi semakin mengkhawatirkan. Sangat sulit sekali kita dapatkan seorang gadis belia berusia belasan tahun masih terjaga kesucian serta kehormatannya !!!

Benar, orang-orang yang selama ini meneriakkan kebebasan dan persamaan hak serta menganggap bahwa wanita senantiasa diperlakukan secara tidak adil di dalam ajaran Islam, sesungguhnya mereka sangat menyadari hal tersebut !! Tapi sayangnya, justru sebagian dari kita sendiri yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan suka rela membiarkan dirinya diperalat musuh-musuh Islam dengan pemikiran sekuler yang dihembuskan kedalam otaknya.

Dengan dalih keadilan serta kesetaraan, mereka mengatakan bahwa wanita pada dasarnya tidak serta merta identik dengan urusan domestik, akan tetapi agama, budaya, serta kebiasaan yang berlaku di dalam masyarakat-lah yang menempatkan dia pada posisi itu. Akibatnya, ketika dijumpai nash-nash Al-Qur’an dan Al-Hadits yang shahih menetapkan peran dan batasan-batasan bagi seorang wanita, maka dianggapnya hal tersebut sebagai sebuah bias gender. Sehingga dengan lancangnya sebagian dari mereka merasa perlu untuk me-reinterpretasi nash yang telah datang dari Alloh `Azza wa Jalla dan RasulNya tersebut agar sesuai dengan pemahaman gender. Atau terkadang mereka juga mengatakan bahwa interpretasi/ penafsiran yang mengikuti salafush shaleh adalah ketinggalan jaman atau karena dipengaruhi oleh budaya Arab yang patriarkis sehingga lebih menguntungkan kaum pria. Padahal kalo kita mau mengkaji secara mendalam, akan kita temukan bahwa Islam sendiri telah mengangkat derajat kaum wanita dan memuliakannya.

Padahal, ketika kita mendapatkan sebuah penyimpangan dalam masyarakat, dimana posisi wanita tampak lemah, terdholimi, dan lebih sering menjadi korban kekerasan dan pelecehan, maka bukan berarti bukanlah syariat itu yang perlu diinterpretasi kembali, melainkan umat inilah yang memerlukan pendidikan agar dapat memahami dan mengamalkan agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan benar, menurut pemahaman salafush-shaleh.

Dan Maha Suci Allah yang telah menciptakan alam semesta ini dengan sebaik-baik penciptaan !! Seandainya kita mau mencermati segala yang terjadi di sekitar kita. Perputaran siang dan malam, datangnya matahari dan bulan yang silih berganti, tidak berarti menunjukkan superioritas antara yang satu terhadap yang lainnya. Tiap entitas dengan karekteristik dan kekhasannya masing-masing memiliki peran yang tidak bisa saling menggantikan. Tiap entitas dibutuhkan kehadirannya sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing.
Sama halnya juga dengan penciptaan laki-laki dan perempuan. Sesungguhnya perbedaan peran dan tanggungjawab yang dibebankan kepadanya oleh Alloh `Azza Wa Jalla adalah sebagai konsekuensi atas kekhasan penciptaannya masing-masing agar dapat saling mengisi dan melengkapi, dan bukannya untuk saling menggantikan, atau bahkan saling bersaing di setiap bidang kehidupan sebagaimana yang diwacanakan oleh para penggiat kesetaraan gender.

Sesungguhnya perbedaan peran dan tanggungjawab antara pria dan wanita yang dibebankan oleh Alloh `Azza Wa Jalla sama sekali tidak menyiratkan ‘supermasi’ pria terhadap wanita. Perbedaan ini lebih menyiratkan pada peran “saling mengisi” dari keduanya dalam kehidupan ini. Maka dari itulah Alloh `Azza Wa Jalla menciptakan manusia beserta dengan pasangannya untuk saling mengisi dan melengkapi. Allah Subhaanahu Wa Ta`ala berfirman :

{وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالأنْثَى}
“dan Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.” (QS. An-Najm: 45)

{وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا}
“dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan,” (QS An-Naba: 8)

Sangatlah jelas disini akan hikmah diciptakannya manusia dalam keadaaan berpasangan, dikarenakan bahwa jenis laki-laki tidaklah sama dengan jenis perempuan, sebagaimana yang perkataan isteri Imran yang disebutkan Allah di dalam Al-Qur’an:

{وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى}
“dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.” (QS Al-Imran: 36)

Allah `Azza Wa Jalla telah mentakdirkan adanya perbedaan dalam penciptaan laki-laki dan perempuan. Mereka jelas berbeda dari sisi postur tubuh dan susunan anggota badan. Kaum laki-laki memiliki kesempurnaan dalam kekuatan yang dimilikinya. Sedangkan perempuan lebih lemah dari segi penciptaan bentuk tubuh dan tabiat alamiahnya dikarenakan para perempuan mengalami haidh, mengandung, melahirkan dan menyusui, sampai dengan menopause. Masing-masing dari lelaki dan wanita memiliki lingkup pekerjaan yang sesuai dengan fisik mereka. Oleh sebab itulah kemudian datang peringatan tegas yang melarang dari perbuatan tasyabbuh (meniru/menyerupai) salah satunya terhadap yang lain. Didalam Shahih Al-Bukhari, Ibnu ‘Abbas pernah berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الْمُتَشَبِّهيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجاَلِ
“Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.”

Nah, perbedaan bentuk penciptaan ini pun disertai dengan perbedaan beberapa hukum syariat, termasuk perbedaan posisi dan peran mereka di dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, dimana kaum laki-laki mendominasi sektor publik, dan wanita lebih diutamakan pada sektor domestik untuk meletakkan landasan pendidikan dan pembinaan akhlak anak di masa dini yang akan sangat menentukan masa depan umat. Dan sekali lagi hal ini bukanlah sebuah kekalahan wanita atas kaum pria !! Tidak sama sekali …!!

Lalu pertanyaannya sekarang adalah, dimana letak Islam yang katanya bias gender, ketika pembagian hak dan kewajiban bagi laki-laki dan  perempuan telah ditetapkan oleh Allah Sang Pencipta berdasarkan fitrahnya penciptaannya masing-masing?

Apakah hanya karena ingin meraih emansipasi dan kesetaraan gender lalu kita lebih memilih untuk mengekor berbagai teori buatan barat ?!?, atau mentakwil nash-nash yang datang dari Al-Qur`an maupun dari as-Sunnah agar dirasa sesuai dengan hawa nafsu kita ?!?, atau bahkan meninggalkan hukum-hukum syar’i yang digariskan Allah `Azza Wa Jalla !!?

Bukankah kewajiban kita hanyalah taat terhadap apa yang telah digariskan-Nya ??? Dan bukannya memasrahkan diri kita pada ideologi buatan manusia yang akan senantiasa berubah seiring dengan perkembangan pemikiran manusia.  Allah Subhaanahu Wa Ta`ala berfirman :

{أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ}
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”
(QS. Al-A’raf : 54).

 

468 ad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Comment

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 

Notify me of follow-up comments by email.

Notify me of new posts by email.

 

Materi Seminar Regional DIY-Jateng “Kesetaraan Gender dari Berbagai Perspektif: Perempuan antara Fitrah & Tuntutan” Bagian-5

Bila Wanita Harus Bekerja & BerkarirBila Wanita Harus Bekerja & Berkarir

Mengenai hak wanita untuk bekerja, harus ditegaskan sebelumnya bahwa Islam memandang tugas wanita  sebagai ibu dan isteri adalah sebuah peranan yang sangat suci, penting, dan tidak akan bisa tergantikan sama sekali. Sosok pembantu, kehadiran  baby sitter, sama sekali tidak akan dapat menggantikan tugas seorang ibu sebagai pendidik anak yang secara luas membentuk masa depan ummat dan bangsa.

Memang benar, tidak ada satupun ketetapan dalam Islam yang shahih jalur periwayatannya dan sharih (secara jelas) melarang wanita untuk bekerja manakala ada kondisi yang sangat mendesak untuk itu. Misalnya, karena ia adalah seorang janda atau diceraikan suaminya yang harus menghidupi dirinya sendiri, sedangkan pada saat yang sama tidak ada seorangpun yang menanggung kebutuhan ekonominya, dan dia sendiri dapat melakukan suatu usaha untuk menjaga kehormatan dirinya dari minta-minta dan menunggu uluran tangan orang lain.

Atau terkadang keadaan pihak keluarga yang mengharuskan seorang wanita untuk bekerja,  seperti membantu ayahnya yang sudah berusia lanjut – sebagaimana dalam kisah nabi Musa di negeri Madyan bersama dengan dua orang putri nabi Syuaib, yang menggembalakan kambing ayahnya, seperti dalam Al-Qur’an surat al-Qashash (ayat ke 23) : –

{وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ}
“Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”

Namun yang harus diperhatikan adalah, jikapun harus bekerja di  luar rumahnya,  seorang wanita dituntut untuk memperhatikan persyaratan sebagai berikut agar usahanya untuk menjemput rezeki tersebut dimudahkan oleh Sang Pemberi Rezeki. Diantaranya :

Pertama    :
Dia haruslah mendapat persetujuan dari kedua orangtuanya/walinya, ataupun suaminya bila telah menikah. Sebab persetujuannya adalah wajib secara Syariat.

Seorang istri juga tidak boleh keluar rumah kecuali dengan izin suami. Karena hukum asal bagi setiap wanita adalah senantiasa berada  di dalam rumahnya, sebagaimana firmanNya`Azza Wa Jalla,

{وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى}
Dan tinggal-lah kalian (para wanita) di rumah-rumah kalian  dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” (QS. Al-Ahzab : 33)

Ibnu Katsir berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa wanita tidak boleh keluar rumah kecuali ada kebutuhan.” (Tafsir Al-Quran Al-Adzim: 6/408). Syaikhul Islam berkata, “Tidak halal bagi seorang wanita untuk keluar rumah tanpa izin suaminya, jika ia keluar rumah tanpa izin suaminya, berarti ia telah berbuat nusyuz (durhaka), bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta layak mendapat hukuman.”

Kedua        :
Hendaklah pekerjaan itu bukan pekerjaan yang haram atau bukan pekerjaan yang dapat mendatangkan sesuatu yang haram.

Misalnya pekerjaan menjadi sekretaris pribadi bagi seorang direktur yang membuatnya menjadi sering ber-ikhtilath (bercampur berbaur) dan ber-khalwat (bersunyi-sunyi, menyendiri) dengan pria yang bukan mahramnya. Rasulullah shallallahu `alahi bersabda :

((لا يخلوَنَّ أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثُهما))
“Tidaklah seorang lak-laki bersepi-sepian dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) kecuali setan mejadi yang ketiganya (Shahih Ibnu Hibban: 1/436, At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awshoth: 2/184, dan Al-Baihaqi dalam sunannya : 7/91. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah: 1/792 no. 430)

لا يخلوَنَّ رجل بامرأة إلا مع ذي محرم)). فقام رجل فقال: يا رسول الله امرأتي خرجت حاجة واكتتبت في غزوة كذا وكذا))
قال :  ارجع فحج مع امرأتك
“Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kacuali jika bersama dengan mahrom sang wanita tersebut.’ Lalu berdirilah seseorang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, istriku keluar untuk berhaji, dan aku telah mendaftarkan diriku untuk berjihad pada perang ini dan itu,’ maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Kembalilah!, dan berhajilah bersama istrimu.’” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim 2/975)

ِKetiga        :
Dia harus dapat menjaga kehormatan serta kemuliaan dirinyanya.

Semaksimal mungkin untuk menutup pintu-pintu fitnah dengan cara menyembunyikan auratnya secara sempurna di hadapan  pria yang bukan mahramnya serta menjauhi hal-hal yang dapat memicu timbulnya fitnah, baik di dalam cara berpakaian, cara berhias, dan lain sebagainya.

Keempat    :
Dia haruslah berkomitmen untuk senantiasa berpegang teguh dengan akhlak wanita shalihah,

Seperti misalnya dengan menjaga sifat malunya, tidak bertingkah genit, serta mendayu-dayu dalam berbicara. Alloh `Azza Wa Jalla berfirman,

{…فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا}
“Maka janganlah sekali-kali kalian melunak-lunakan ucapan sehingga membuat condong orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit dan berkata dengan perkataan yang ma’ruf/baik”.(QS. Al-Ahzab: 32)

Kelima    :
Hendaknya pekerjaan tersebut sesuai dengan tabi’at,  kodrat, serta fitrahnya sebagai seorang wanita.

Namun perlu kami tekankan sekali lagi bahwa syariat Islam telah menjamin kehidupan yang tenang dan damai bagi wanita. Kewajiban untuk untuk mencari nafkah demi menghidupi serta menopang perekonomian keluarga hanya dibebankan di atas pundak kaum laki-laki. Semua ini menunjukkan akan besarnya penghormatan Islam terhadap kaum wanita.

Namun menjadi suatu hal yang salah kaprah di zaman ini, hanya karena alasan “eksistensi” dan perasaan “gengsi” untuk tidak mau kalah dengan kaum pria, kemudian beban tersebut diambil alih oleh sang isteri/ wanita dan membiarkan suami bertingkah seolah majikan.

Selanjutnya, Islam sama sekali tidak mengabaikan hak wanita dalam hal warisan. Islam mengangkat harkat dan martabat perempuan yang sebelum turunnya syariat Islam, keadaan kaum wanita tidaklah lebih dari sebatas objek yang diwariskan. Bagian warisan yang didapat seorang wanita merupakan hak milik pribadinya yang telah diatur dalam syariat Islam secara proporsional.

Perbedaan porsi warisan antara pria dan wanita didalam syariat Islam  pada hakikatnya sejalan dengan perbedaan dalam tanggung jawab keuangan antara pria dan wanita di hadapan hukum Islam. Kaum wanita berhak mendapat separuh dari bagian laki-laki tanpa adanya kewajiban untuk memberikan nafkah. Sementara laki-laki dengan bagian yang lebih besar, yaitu dua kali bagian perempuan,  namun disisi lain dibebani berbagai tanggung jawab untuk menafkahi keluarganya. Dikatakan dalam firmanNya :

لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأقْرَبُونَ
مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا
“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.” (QS. An-Nisa : 7)

Laki-laki dalam Islam bertanggung jawab sepenuhnya untuk menafkahi keluarganya. Kewajiban tersebut tersebut tidak akan pernah lepas dari pundaknya dan tidak akan pernah berkurang hanya karena kekayaan yang dimiliki oleh isterinya yang diperoleh dari hasil bekerja, atau dari berbagai jenis usaha yang dimiliki oleh si istri tersebut.

Dan jikalau kita mau untuk mengkaji lebih dalam lagi, maka akan kita dapatkan bahwa Islam menjunjung tinggi keadilan. Dalam sudut pandang Islam, kehidupan seorang wanita jauh lebih terjamin jika dilihat dari sisi keuangan dan tidak terbebani dengan berbagai jenis tuntutan terhadap harta pribadinya tersebut. Seorang istri juga tidak mempunyai kewajiban untuk menafkahi keluarganya walaupun suaminya adalah seorang yang serba kekurangan secara finansial.

{الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ…}
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan mereka (laki-laki) atas yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka“ (QS. An Nisa : 34)

Jelas disini bahwa pemberian itu karena dibebankannya kewajiban terhadap laki-laki sebagai pemberi nafkah bagi wanita/keluarganya, sedangkan wanita tidak dikenai kewajiban untuk itu. Telah diriwayatkan dari Mujahid, dari Ummu Salamah radhiallahu `anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, mengapa kaum laki-laki dapat berperang, sedang kami tidak, dan kami pun hanya mendapatkan warisan setengah bagian laki-laki.” Maka Allah menurunkan sebuah ayat (QS. An-Nisa : 32) :

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ
وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”. (Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Al-imam Ath-Thabrani)

Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid menjelaskan ayat diatas dengan menukil perkataan Imam Ath-Thabari : “Disebutkan bahwa ayat di atas diturunkan kepada kaum wanita yang merasa iri terhadap kaum lelaki. Mereka menginginkan seperti layaknya kaum laki-laki. Maka Allah melarang hamba-hamba-Nya mengharapkan hal yang bathil dan memerintahkan mereka untuk memohon sebagian dari karunia-Nya. Dan sebuah perasaan iri mengakibatkan pelakunya berbuat hasad dan kedurhakaan tanpa dilandasi kebenaran.” (Lihat: Hirasah Al-Fadhilah)

bersambung…

 

468 ad

4 Responses to “Bila Wanita Harus Bekerja & Berkarir”

  1. Rosyîdah AL Mahbûbah

    subhanallâh….
    keep istiqomah yyaa share ilmunyaaaaa :)

  2. Abdulloh

    Saya pedagang, istri saya PNS di kantor Pusat (Jakarta). Modal dagangan saya dari pinjaman Bank konvensional (dengan bunga), dan pinjamannya atas nama istri saya. Mayoritas pelanggan kami pegawai di lingkungan kerja istri saya (kebutuhan primer pekerjaan mereka) selain di Toko tempat saya. Pembayarannya melalui Gaji Istri saya dan rencara dilunasi 3 tahun saja atau dipercepat dari seharusnya. Kami berharap setidaknya terlepas dari hutang riba ini. Pertanyaannya:
    1. Apakah makanan yang kami makan ini haram karena pinjaman bank konvensional tersebut?
    2. Bagaimana status istri saya sementara hati besar saya masih membutuhkan keuangan dari istri saya?
    3. Saya pernah tanya dan juga datang ke kantor istri saya, ruangan kerjanya terbuka dan dipartisi (seperti kantor karyawan pada umumnya. Apakah itu meringankan saya?
    Mohon solusinya.

    1. Apakah Alloh akan mengampuni kami dengan bermuamalah dengan B

    • Hukum bunga bank adalah haram karena termasuk ke dalam katagori riba yang disebutkan dalam firman Allah `Azza Wa Jalla.: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Baqarah: 278-279)
      Dalam sabda Rasulullah `Alaihis Salam juga disebutkan: “Dari Abdullah Radiyallohu `anhu, ia berkata : “Rasulullah `Alaihis Salam melaknat orang yang memakan orang yang memakan (mengambil) dan memberikan riba.” Rawi berkata: saya bertanya:”(apakah Rasulullah melaknat juga) orang yang menuliskan dan dua orang yang menajdi saksinya?” Ia (Abdullah) menjawab : “Kami hannya menceritakan apa yang kami dengar.” (HR.Muslim)
      Nah, Sesuatu yang sudah jelas keharamannya (dalam hal ini adalah ber-muamalah dengan Riba) tidak boleh dilakukan kecuali bila dalam keadaan darurat. Artinya, sudah tidak ada pilihan lain, sementara tingkat kebutuhan itu mendesak serta mengancam jiwa seseorang, berdasarkan kaidah yang telah disepakati oleh para ulama : “bahwa kondisi darurat mempunyai hukum tersendiri menurut syarat”. Misalnya, kondisi darurat memperbolehkan seseorang memakan bangkai, darah, dan daging babi ketika kelaparan, sebagaimana dijelaskan di dalam Alquran. Tetapi dengan ketentuan bahwa yang bersangkutan tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas.
      Maka pertanyaannya sekarang adalah, apakah yang yang melatarbelakangi saudara untuk mengambil pinjaman ribawi telah benar-benar dalam kondisi yang sangat darurat sekali?? Tidakkah ada jalan lain yang tidak mendatangkan murka dan amarah Alloh `Azza Wa Jalla.
      Dan solusi yang paling realistis pada saat ini bagi saudara sekeluarga adalah dengan sesegera mungkin untuk menyadari kesalahan ini dan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali dimasa yang akan datang serta sebisa mungkin untuk secepat mungkin melunasi hutang tersebut tanpa menunggu batas akhir pelunasan hutang (yang akan jatuh 3 tahun kedepan).

      Wallaahu Ta`ala A’lam….. Dan Semoga Alloh `Azza Wa Jalla senantiasa menjaga antum sekeluarga. Aamieen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *