RSS

Materi Seminar Regional DIY-Jateng “Kesetaraan Gender dari Berbagai Perspektif: Perempuan antara Fitrah & Tuntutan” Bagian-5

15 Jul

Bila Wanita Harus Bekerja & BerkarirBila Wanita Harus Bekerja & Berkarir

Mengenai hak wanita untuk bekerja, harus ditegaskan sebelumnya bahwa Islam memandang tugas wanita  sebagai ibu dan isteri adalah sebuah peranan yang sangat suci, penting, dan tidak akan bisa tergantikan sama sekali. Sosok pembantu, kehadiran  baby sitter, sama sekali tidak akan dapat menggantikan tugas seorang ibu sebagai pendidik anak yang secara luas membentuk masa depan ummat dan bangsa.

Memang benar, tidak ada satupun ketetapan dalam Islam yang shahih jalur periwayatannya dan sharih (secara jelas) melarang wanita untuk bekerja manakala ada kondisi yang sangat mendesak untuk itu. Misalnya, karena ia adalah seorang janda atau diceraikan suaminya yang harus menghidupi dirinya sendiri, sedangkan pada saat yang sama tidak ada seorangpun yang menanggung kebutuhan ekonominya, dan dia sendiri dapat melakukan suatu usaha untuk menjaga kehormatan dirinya dari minta-minta dan menunggu uluran tangan orang lain.

Atau terkadang keadaan pihak keluarga yang mengharuskan seorang wanita untuk bekerja,  seperti membantu ayahnya yang sudah berusia lanjut – sebagaimana dalam kisah nabi Musa di negeri Madyan bersama dengan dua orang putri nabi Syuaib, yang menggembalakan kambing ayahnya, seperti dalam Al-Qur’an surat al-Qashash (ayat ke 23) : –

{وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ}
“Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”

Namun yang harus diperhatikan adalah, jikapun harus bekerja di  luar rumahnya,  seorang wanita dituntut untuk memperhatikan persyaratan sebagai berikut agar usahanya untuk menjemput rezeki tersebut dimudahkan oleh Sang Pemberi Rezeki. Diantaranya :

Pertama    :
Dia haruslah mendapat persetujuan dari kedua orangtuanya/walinya, ataupun suaminya bila telah menikah. Sebab persetujuannya adalah wajib secara Syariat.

Seorang istri juga tidak boleh keluar rumah kecuali dengan izin suami. Karena hukum asal bagi setiap wanita adalah senantiasa berada  di dalam rumahnya, sebagaimana firmanNya`Azza Wa Jalla,

{وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى}
Dan tinggal-lah kalian (para wanita) di rumah-rumah kalian  dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” (QS. Al-Ahzab : 33)

Ibnu Katsir berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa wanita tidak boleh keluar rumah kecuali ada kebutuhan.” (Tafsir Al-Quran Al-Adzim: 6/408). Syaikhul Islam berkata, “Tidak halal bagi seorang wanita untuk keluar rumah tanpa izin suaminya, jika ia keluar rumah tanpa izin suaminya, berarti ia telah berbuat nusyuz (durhaka), bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta layak mendapat hukuman.”

Kedua        :
Hendaklah pekerjaan itu bukan pekerjaan yang haram atau bukan pekerjaan yang dapat mendatangkan sesuatu yang haram.

Misalnya pekerjaan menjadi sekretaris pribadi bagi seorang direktur yang membuatnya menjadi sering ber-ikhtilath (bercampur berbaur) dan ber-khalwat (bersunyi-sunyi, menyendiri) dengan pria yang bukan mahramnya. Rasulullah shallallahu `alahi bersabda :

((لا يخلوَنَّ أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثُهما))
“Tidaklah seorang lak-laki bersepi-sepian dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) kecuali setan mejadi yang ketiganya (Shahih Ibnu Hibban: 1/436, At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awshoth: 2/184, dan Al-Baihaqi dalam sunannya : 7/91. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah: 1/792 no. 430)

لا يخلوَنَّ رجل بامرأة إلا مع ذي محرم)). فقام رجل فقال: يا رسول الله امرأتي خرجت حاجة واكتتبت في غزوة كذا وكذا))
قال :  ارجع فحج مع امرأتك
“Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kacuali jika bersama dengan mahrom sang wanita tersebut.’ Lalu berdirilah seseorang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, istriku keluar untuk berhaji, dan aku telah mendaftarkan diriku untuk berjihad pada perang ini dan itu,’ maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Kembalilah!, dan berhajilah bersama istrimu.’” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim 2/975)

ِKetiga        :
Dia harus dapat menjaga kehormatan serta kemuliaan dirinyanya.

Semaksimal mungkin untuk menutup pintu-pintu fitnah dengan cara menyembunyikan auratnya secara sempurna di hadapan  pria yang bukan mahramnya serta menjauhi hal-hal yang dapat memicu timbulnya fitnah, baik di dalam cara berpakaian, cara berhias, dan lain sebagainya.

Keempat    :
Dia haruslah berkomitmen untuk senantiasa berpegang teguh dengan akhlak wanita shalihah,

Seperti misalnya dengan menjaga sifat malunya, tidak bertingkah genit, serta mendayu-dayu dalam berbicara. Alloh `Azza Wa Jalla berfirman,

{…فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا}
“Maka janganlah sekali-kali kalian melunak-lunakan ucapan sehingga membuat condong orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit dan berkata dengan perkataan yang ma’ruf/baik”.(QS. Al-Ahzab: 32)

Kelima    :
Hendaknya pekerjaan tersebut sesuai dengan tabi’at,  kodrat, serta fitrahnya sebagai seorang wanita.

Namun perlu kami tekankan sekali lagi bahwa syariat Islam telah menjamin kehidupan yang tenang dan damai bagi wanita. Kewajiban untuk untuk mencari nafkah demi menghidupi serta menopang perekonomian keluarga hanya dibebankan di atas pundak kaum laki-laki. Semua ini menunjukkan akan besarnya penghormatan Islam terhadap kaum wanita.

Namun menjadi suatu hal yang salah kaprah di zaman ini, hanya karena alasan “eksistensi” dan perasaan “gengsi” untuk tidak mau kalah dengan kaum pria, kemudian beban tersebut diambil alih oleh sang isteri/ wanita dan membiarkan suami bertingkah seolah majikan.

Selanjutnya, Islam sama sekali tidak mengabaikan hak wanita dalam hal warisan. Islam mengangkat harkat dan martabat perempuan yang sebelum turunnya syariat Islam, keadaan kaum wanita tidaklah lebih dari sebatas objek yang diwariskan. Bagian warisan yang didapat seorang wanita merupakan hak milik pribadinya yang telah diatur dalam syariat Islam secara proporsional.

Perbedaan porsi warisan antara pria dan wanita didalam syariat Islam  pada hakikatnya sejalan dengan perbedaan dalam tanggung jawab keuangan antara pria dan wanita di hadapan hukum Islam. Kaum wanita berhak mendapat separuh dari bagian laki-laki tanpa adanya kewajiban untuk memberikan nafkah. Sementara laki-laki dengan bagian yang lebih besar, yaitu dua kali bagian perempuan,  namun disisi lain dibebani berbagai tanggung jawab untuk menafkahi keluarganya. Dikatakan dalam firmanNya :

لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأقْرَبُونَ
مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا
“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.” (QS. An-Nisa : 7)

Laki-laki dalam Islam bertanggung jawab sepenuhnya untuk menafkahi keluarganya. Kewajiban tersebut tersebut tidak akan pernah lepas dari pundaknya dan tidak akan pernah berkurang hanya karena kekayaan yang dimiliki oleh isterinya yang diperoleh dari hasil bekerja, atau dari berbagai jenis usaha yang dimiliki oleh si istri tersebut.

Dan jikalau kita mau untuk mengkaji lebih dalam lagi, maka akan kita dapatkan bahwa Islam menjunjung tinggi keadilan. Dalam sudut pandang Islam, kehidupan seorang wanita jauh lebih terjamin jika dilihat dari sisi keuangan dan tidak terbebani dengan berbagai jenis tuntutan terhadap harta pribadinya tersebut. Seorang istri juga tidak mempunyai kewajiban untuk menafkahi keluarganya walaupun suaminya adalah seorang yang serba kekurangan secara finansial.

{الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ…}
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan mereka (laki-laki) atas yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka“ (QS. An Nisa : 34)

Jelas disini bahwa pemberian itu karena dibebankannya kewajiban terhadap laki-laki sebagai pemberi nafkah bagi wanita/keluarganya, sedangkan wanita tidak dikenai kewajiban untuk itu. Telah diriwayatkan dari Mujahid, dari Ummu Salamah radhiallahu `anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, mengapa kaum laki-laki dapat berperang, sedang kami tidak, dan kami pun hanya mendapatkan warisan setengah bagian laki-laki.” Maka Allah menurunkan sebuah ayat (QS. An-Nisa : 32) :

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ
وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”. (Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Al-imam Ath-Thabrani)

Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid menjelaskan ayat diatas dengan menukil perkataan Imam Ath-Thabari : “Disebutkan bahwa ayat di atas diturunkan kepada kaum wanita yang merasa iri terhadap kaum lelaki. Mereka menginginkan seperti layaknya kaum laki-laki. Maka Allah melarang hamba-hamba-Nya mengharapkan hal yang bathil dan memerintahkan mereka untuk memohon sebagian dari karunia-Nya. Dan sebuah perasaan iri mengakibatkan pelakunya berbuat hasad dan kedurhakaan tanpa dilandasi kebenaran.” (Lihat: Hirasah Al-Fadhilah)

bersambung…

 

468 ad

4 Responses to “Bila Wanita Harus Bekerja & Berkarir”

  1. Rosyîdah AL Mahbûbah

    subhanallâh….
    keep istiqomah yyaa share ilmunyaaaaa :)

  2. Abdulloh

    Saya pedagang, istri saya PNS di kantor Pusat (Jakarta). Modal dagangan saya dari pinjaman Bank konvensional (dengan bunga), dan pinjamannya atas nama istri saya. Mayoritas pelanggan kami pegawai di lingkungan kerja istri saya (kebutuhan primer pekerjaan mereka) selain di Toko tempat saya. Pembayarannya melalui Gaji Istri saya dan rencara dilunasi 3 tahun saja atau dipercepat dari seharusnya. Kami berharap setidaknya terlepas dari hutang riba ini. Pertanyaannya:
    1. Apakah makanan yang kami makan ini haram karena pinjaman bank konvensional tersebut?
    2. Bagaimana status istri saya sementara hati besar saya masih membutuhkan keuangan dari istri saya?
    3. Saya pernah tanya dan juga datang ke kantor istri saya, ruangan kerjanya terbuka dan dipartisi (seperti kantor karyawan pada umumnya. Apakah itu meringankan saya?
    Mohon solusinya.

    1. Apakah Alloh akan mengampuni kami dengan bermuamalah dengan B

    • Hukum bunga bank adalah haram karena termasuk ke dalam katagori riba yang disebutkan dalam firman Allah `Azza Wa Jalla.: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Baqarah: 278-279)
      Dalam sabda Rasulullah `Alaihis Salam juga disebutkan: “Dari Abdullah Radiyallohu `anhu, ia berkata : “Rasulullah `Alaihis Salam melaknat orang yang memakan orang yang memakan (mengambil) dan memberikan riba.” Rawi berkata: saya bertanya:”(apakah Rasulullah melaknat juga) orang yang menuliskan dan dua orang yang menajdi saksinya?” Ia (Abdullah) menjawab : “Kami hannya menceritakan apa yang kami dengar.” (HR.Muslim)
      Nah, Sesuatu yang sudah jelas keharamannya (dalam hal ini adalah ber-muamalah dengan Riba) tidak boleh dilakukan kecuali bila dalam keadaan darurat. Artinya, sudah tidak ada pilihan lain, sementara tingkat kebutuhan itu mendesak serta mengancam jiwa seseorang, berdasarkan kaidah yang telah disepakati oleh para ulama : “bahwa kondisi darurat mempunyai hukum tersendiri menurut syarat”. Misalnya, kondisi darurat memperbolehkan seseorang memakan bangkai, darah, dan daging babi ketika kelaparan, sebagaimana dijelaskan di dalam Alquran. Tetapi dengan ketentuan bahwa yang bersangkutan tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas.
      Maka pertanyaannya sekarang adalah, apakah yang yang melatarbelakangi saudara untuk mengambil pinjaman ribawi telah benar-benar dalam kondisi yang sangat darurat sekali?? Tidakkah ada jalan lain yang tidak mendatangkan murka dan amarah Alloh `Azza Wa Jalla.
      Dan solusi yang paling realistis pada saat ini bagi saudara sekeluarga adalah dengan sesegera mungkin untuk menyadari kesalahan ini dan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali dimasa yang akan datang serta sebisa mungkin untuk secepat mungkin melunasi hutang tersebut tanpa menunggu batas akhir pelunasan hutang (yang akan jatuh 3 tahun kedepan).

      Wallaahu Ta`ala A’lam….. Dan Semoga Alloh `Azza Wa Jalla senantiasa menjaga antum sekeluarga. Aamieen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: