RSS

Materi Seminar Regional DIY-Jateng “Kesetaraan Gender dari Berbagai Perspektif: Perempuan antara Fitrah & Tuntutan”

15 Jul

Wanita Itu …    Wanita itu …

Wanita adalah mahluk yang diciptakan Allah `Azza Wa Jalla  dengan berbagai kekhasan beserta dengan kodrat yang menyertainya. Wanita diciptakan dengan berbagai fitrah yang menjadikannya mulia dengan fitrah tersebut. Dan tidak akan ditemukan dalam hukum Islam satu nash-pun yang menunjukkan bahwa wanita berkedudukan rendah hanya karena dia diciptakan sebagai seorang wanita.

Namun yang sangat disayangkan adalah ketika wanita kurang menyadari hal ini. Ketika tatanan nilai mulai mengalami pergeseran. Ditambah lagi dengan berkembangnya arus pemikiran sekuler serta merambahnya globalisasi di setiap sendi kehidupan telah merubah perpepsi mereka akan sosok wanita yang ideal dimata mereka. Mereka menganggap bahwa wanita baru dianggap memiliki “arti” ketika mereka berhasil memperoleh posisi yang “sama” dengan pria.

Suatu hal yang awalnya adalah sebuah kelaziman telah dipandang sebagai sebuah keterbelakangan dan kemunduran. Suatu hal yang awalnya diterima dengan keyakinan penuh terhadap ajaran agama, kini menjadi sesuatu yang diperdebatkan tiada hentinya.

 Ada Apa Dengan Wanita …

Ketahuilah wahai saudariku Muslimah !
Wanita dalam Islam menempati posisi yang sangat penting dan strategis dalam sebuah keluarga. Wanita –terutama seorang ibu- adalah madrasah pertama yang akan membentuk akhlak dan pribadi generasi penerus ummat ini. Sampai-sampai dikatakan bahwa ibu adalah tiang berdirinya negara. Sejarah telah membuktikan bahwa maju mundurnya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh andil besar kaum ibu.

Benar, ketika para wanita di suatu bangsa telah mengalami kehancuran secara moral, maka kehancuran bangsa tersebut tinggal menunggu waktunya saja. Marilah kita melihat sejenak keadaan yang terjadi di negara-negara barat yang selama ini begitu bersemangat dalam menggagas serta menggerakan feminisme dan kesetaraan gender. Generasi yang dilahirkannya disana semakin brutal dan bobrok. Degradasi moral yang terjadi semakin mengkhawatirkan. Sangat sulit sekali kita dapatkan seorang gadis belia berusia belasan tahun masih terjaga kesucian serta kehormatannya !!!

Benar, orang-orang yang selama ini meneriakkan kebebasan dan persamaan hak serta menganggap bahwa wanita senantiasa diperlakukan secara tidak adil di dalam ajaran Islam, sesungguhnya mereka sangat menyadari hal tersebut !! Tapi sayangnya, justru sebagian dari kita sendiri yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan suka rela membiarkan dirinya diperalat musuh-musuh Islam dengan pemikiran sekuler yang dihembuskan kedalam otaknya.

Dengan dalih keadilan serta kesetaraan, mereka mengatakan bahwa wanita pada dasarnya tidak serta merta identik dengan urusan domestik, akan tetapi agama, budaya, serta kebiasaan yang berlaku di dalam masyarakat-lah yang menempatkan dia pada posisi itu. Akibatnya, ketika dijumpai nash-nash Al-Qur’an dan Al-Hadits yang shahih menetapkan peran dan batasan-batasan bagi seorang wanita, maka dianggapnya hal tersebut sebagai sebuah bias gender. Sehingga dengan lancangnya sebagian dari mereka merasa perlu untuk me-reinterpretasi nash yang telah datang dari Alloh `Azza wa Jalla dan RasulNya tersebut agar sesuai dengan pemahaman gender. Atau terkadang mereka juga mengatakan bahwa interpretasi/ penafsiran yang mengikuti salafush shaleh adalah ketinggalan jaman atau karena dipengaruhi oleh budaya Arab yang patriarkis sehingga lebih menguntungkan kaum pria. Padahal kalo kita mau mengkaji secara mendalam, akan kita temukan bahwa Islam sendiri telah mengangkat derajat kaum wanita dan memuliakannya.

Padahal, ketika kita mendapatkan sebuah penyimpangan dalam masyarakat, dimana posisi wanita tampak lemah, terdholimi, dan lebih sering menjadi korban kekerasan dan pelecehan, maka bukan berarti bukanlah syariat itu yang perlu diinterpretasi kembali, melainkan umat inilah yang memerlukan pendidikan agar dapat memahami dan mengamalkan agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan benar, menurut pemahaman salafush-shaleh.

Dan Maha Suci Allah yang telah menciptakan alam semesta ini dengan sebaik-baik penciptaan !! Seandainya kita mau mencermati segala yang terjadi di sekitar kita. Perputaran siang dan malam, datangnya matahari dan bulan yang silih berganti, tidak berarti menunjukkan superioritas antara yang satu terhadap yang lainnya. Tiap entitas dengan karekteristik dan kekhasannya masing-masing memiliki peran yang tidak bisa saling menggantikan. Tiap entitas dibutuhkan kehadirannya sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing.
Sama halnya juga dengan penciptaan laki-laki dan perempuan. Sesungguhnya perbedaan peran dan tanggungjawab yang dibebankan kepadanya oleh Alloh `Azza Wa Jalla adalah sebagai konsekuensi atas kekhasan penciptaannya masing-masing agar dapat saling mengisi dan melengkapi, dan bukannya untuk saling menggantikan, atau bahkan saling bersaing di setiap bidang kehidupan sebagaimana yang diwacanakan oleh para penggiat kesetaraan gender.

Sesungguhnya perbedaan peran dan tanggungjawab antara pria dan wanita yang dibebankan oleh Alloh `Azza Wa Jalla sama sekali tidak menyiratkan ‘supermasi’ pria terhadap wanita. Perbedaan ini lebih menyiratkan pada peran “saling mengisi” dari keduanya dalam kehidupan ini. Maka dari itulah Alloh `Azza Wa Jalla menciptakan manusia beserta dengan pasangannya untuk saling mengisi dan melengkapi. Allah Subhaanahu Wa Ta`ala berfirman :

{وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالأنْثَى}
“dan Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.” (QS. An-Najm: 45)

{وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا}
“dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan,” (QS An-Naba: 8)

Sangatlah jelas disini akan hikmah diciptakannya manusia dalam keadaaan berpasangan, dikarenakan bahwa jenis laki-laki tidaklah sama dengan jenis perempuan, sebagaimana yang perkataan isteri Imran yang disebutkan Allah di dalam Al-Qur’an:

{وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى}
“dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.” (QS Al-Imran: 36)

Allah `Azza Wa Jalla telah mentakdirkan adanya perbedaan dalam penciptaan laki-laki dan perempuan. Mereka jelas berbeda dari sisi postur tubuh dan susunan anggota badan. Kaum laki-laki memiliki kesempurnaan dalam kekuatan yang dimilikinya. Sedangkan perempuan lebih lemah dari segi penciptaan bentuk tubuh dan tabiat alamiahnya dikarenakan para perempuan mengalami haidh, mengandung, melahirkan dan menyusui, sampai dengan menopause. Masing-masing dari lelaki dan wanita memiliki lingkup pekerjaan yang sesuai dengan fisik mereka. Oleh sebab itulah kemudian datang peringatan tegas yang melarang dari perbuatan tasyabbuh (meniru/menyerupai) salah satunya terhadap yang lain. Didalam Shahih Al-Bukhari, Ibnu ‘Abbas pernah berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الْمُتَشَبِّهيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجاَلِ
“Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.”

Nah, perbedaan bentuk penciptaan ini pun disertai dengan perbedaan beberapa hukum syariat, termasuk perbedaan posisi dan peran mereka di dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, dimana kaum laki-laki mendominasi sektor publik, dan wanita lebih diutamakan pada sektor domestik untuk meletakkan landasan pendidikan dan pembinaan akhlak anak di masa dini yang akan sangat menentukan masa depan umat. Dan sekali lagi hal ini bukanlah sebuah kekalahan wanita atas kaum pria !! Tidak sama sekali …!!

Lalu pertanyaannya sekarang adalah, dimana letak Islam yang katanya bias gender, ketika pembagian hak dan kewajiban bagi laki-laki dan  perempuan telah ditetapkan oleh Allah Sang Pencipta berdasarkan fitrahnya penciptaannya masing-masing?

Apakah hanya karena ingin meraih emansipasi dan kesetaraan gender lalu kita lebih memilih untuk mengekor berbagai teori buatan barat ?!?, atau mentakwil nash-nash yang datang dari Al-Qur`an maupun dari as-Sunnah agar dirasa sesuai dengan hawa nafsu kita ?!?, atau bahkan meninggalkan hukum-hukum syar’i yang digariskan Allah `Azza Wa Jalla !!?

Bukankah kewajiban kita hanyalah taat terhadap apa yang telah digariskan-Nya ??? Dan bukannya memasrahkan diri kita pada ideologi buatan manusia yang akan senantiasa berubah seiring dengan perkembangan pemikiran manusia.  Allah Subhaanahu Wa Ta`ala berfirman :

{أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ}
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”
(QS. Al-A’raf : 54).

 

468 ad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Comment

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 

Notify me of follow-up comments by email.

Notify me of new posts by email.

Iklan
 

2 responses to “Materi Seminar Regional DIY-Jateng “Kesetaraan Gender dari Berbagai Perspektif: Perempuan antara Fitrah & Tuntutan”

  1. diet plan

    Juli 18, 2013 at 5:34 pm

    Hi my loved one! I want to say that this post is awesome, nice written and include almost all vital infos.
    I would like to see more posts like this .

    Here is my web site – diet plan

     
    • mutmainahtwiter11

      Juli 19, 2013 at 1:12 am

      terimakasih telah membaca postingan saya ,,, dan saya bersyukur apabila anda menyukainya ,,, semoga bermanfaat ..

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: